Banyak  yang bertanya ke saya  “Pernah Rugi Gak Selama Trading ?”

Trading saham seperti halnya perdagangan secara umum pasti ada kondisi dimana kita bisa untung dan bisa rugi. Tidak ada kepastian bahwa setiap melakukan trading akan untung dan jadi rugi.

Semua tergantung kepada tiga hal :

1. Analisa yang telah kita lakukan

2. Timing pada saat membeli dan menjual

3. Risk management 

Apabila tiga hal ini telah dilakukan dengan kemungkinan Kerugian bisa diminimalisasi dan Keutungan bisa dimaksimalkan.

Bagaimana melakukan ANALISA 

Secara umum ada dua pendekatan analisa yang bisa dilakukan oleh trader saham :  Analisa Fundamental dan Analisa Technical, atau kombinasi dari keduanya. Analisa Fundamental biasanya memperhatikan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh emiten (perusahaan yang terdaftar di Bursa) biasanya Neraca dan Rugi Laba Perusahaan. Dari sana kita bisa tahu”kesehatan” perusahaan bila dibandingkan dengan perusahan sejenis. Analisa Fundamental biasanya mengeluarkan output beberapa rasio yang sering kita dengar seperti EPS (earning per share : laba bersih per saham) , PER (price to earning ratio : rasio harga saham dibandingkan dengan laba), pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan laba, DER (debt to equity ratio : rasio utang terhadap modal). Kebanyakan mereka yang memiliki spektrum jangka panjang akan memastikan secara singkat rasio rasio ini terbaca dalam analisa nya sehingga bisa dipastikan bahwa kita telah melakukan trading saham di perusahaan yang tepat.

Analisa kedua yang lebih banyak dan sering dipakai saat ini adalah Technical Analysis  yang berpedoman kepada pergerakan harga saham, volume perdagangan dan trend/pola transaksinya. Ini cocok untuk kita yang hendak melakukan trading dalam spektum waktu lebih singkat misalkan 2 mingguan atau 3 bulanan. Namun dapat dipergunakan oleh mereka yang punya spektrum lebih panjang sebagai cara menentukan kapan waktu yang terbaik untuk membeli/menambah kepemilikan sahamnya.

Analisa dan rekomendasi yang saya berikan dalam blog ini sebagian besar menggunakan Technical Analysis saja, namum saham saham yang direkomendasikan secara umum memiliki fundamental baik walaupun mungkin secara nama dan kode sahamnya tidak familar.

Kapan Harus Membeli dan Kapan Harus Menjual ?

Pertanyaan yang gampang gampang susah buat dijawab karena masing masing orang memiliki objective yang berbeda beda. Namun untuk kesempatan ini saya akan sampaikan satu hal prinsip yang mudah.

BELI PADA SAAT TERJADI KENAIKAN HARGA YANG TINGGI DENGAN VOLUME BESAR

JUAL PADA SAAT KENAIKAN HARGA SUDAH MENDEKATI TARGET HARGA BARU NYA

Kalau dalam bahasa trading nya Buy on Breakout dan Sell Near Its Target Price. Semua saham akan mengalami fase dimana akan membentuk harga baru setiap hari dan dalam kurun waktu tertentu. Rekomendasi yang biasa saya berikan biasanya adalah saham saham yang baru saja Breakout dan juga saya sampaikan Target Price nya berapa sehingga bisa menjadi acuan untuk harga terbaik untuk menjualnya.

Pencapaian Target Price bisa saja terjadi dalam hitungan hari tapi kadang bisa sampai 1-2 minggu. Ada baiknya selalu bersabar dalam mengambil keputusan sebelum menjual sampai betul-betul mendekati target price sehingga menghindari kekecewaan setelah dijual harga sahamnya malah makin tinggi.

Bagaimana Mengurangi Resiko ?

Ketika rekomendasi diberikan, biasanya saya mencantumkan batas bawah yang bila batas tersebut ditembus maka kemungkinan loss/rugi akan semakin besar. Oleh karena itu dalam trading saham kadang kala harus dilakukan sebuah keputusan untuk mengurangi resiko dengan melakukan JUAL RUGI. Ini jauh lebih baik ketimbang saham bergerak menukik lebih dalam dan akan memberikan kerugian yang lebih besar.

Saya pribadi mengalami beberapa kerugian dalam trading namun hal ini bisa dikompensasi dengan beberapa trading yang mengalami keuntungan dalam jumlah yang cukup besar. Setiap minggu lakukan evaluasi terhadap trading yang dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan kita dalam melakukan analisa dan eksekusi.

Berikut ini ilustrasi profit dan loss yang saya lakukan di W2 dan W3 July

REKAP PROFIT LOSS W2
1 TLKM 38.42%
2 AISA 35.30%
3 TLKM 33.87%
4 SMBR 21.94%
5 PPRO 16.14%
6 GJTL 9.92%
7 PTPP 7.77%
8 ADHI 1.87%
9 ASII 1.52%
10 CTRP 1.19%
11 KIJA 0.75%
12 BBNI 0.73%
13 DOID 0.39%
14 ISSP -0.48%
15 DOID -1.35%
16 JGLE -7.06%
Total Rata Rata 8.25%

REKAP PROFIT LOSS W3
1 GJTL 23.81%
2 PPRO 21.89%
3 INAF 21.71%
4 MEDC 13.76%
5 DOID 11.96%
6 SMBR 10.36%
7 PTPP 5.85%
8 BBNI 4.43%
9 ROTI 3.60%
10 TINS 1.57%
11 ACES -1.83%
Total Rata Rata 11.93%

Terlihat bahwa sudah ada perbaikan dari trading di W3 dibandingkan W2 yang dapat dilihat dari kenaikan rataan profit, jumlah saham yang loss berkurang dan 3 menjadi 1 serta jumlah transaksi berkurang dari 16 menjadi 11.

Tidak berarti bahwa makin sering trading makin tinggi profit, bahkan ada orang yang trading hanya 3-5 saham tapi memiliki profit lebih tinggi karena memang pilihannya sangat tepat. Hal ini bisa terjadi karena kemampuan analisa dan eksekusinya sudah baik sehingga dengan Analisa + Kesabaran trader tadi bisa memberikan profit yang maksimal.

Yang paling mendasar di sini adalah bila melakuan trading jangan sekedar percaya dengan omongan tetangga “saham ini naik, saham ini digoreng” lakukan double crosscheck  dengan melakukan analisa sehingga bisa menjadi reassurance point atau second opinion terhadap kebenaran info tadi.

Yuk Trading !!!!