Edukasi Saham

Trading Saham Tanpa Rugi : Mitos Atau Fakta ?

Mau Trading Saham Tapi Takut Rugi Dalam. Bisakah Trading Saham Tanpa Rugi ?  Trading Saham Tanpa Kerugian Apakah Mitos Atau Fakta ?? Bagaimana Cara Antisipasinya ?

Setiap mendengar kata “”Trading Saham” atau Bahasa kerennya “equity trading” atau Bahasa yang paling sering digunakan orang “Main Saham” orang selalu punya dua  hal yang muncul di pikiran “UNTUNG GEDE” atau “RUGI DALAM”

Semua ini terjadi karena banyak yang menjual mimpi mengenai indahnya Pasar Modal bahwa “inilah pasar yang bisa memberikan keuntungan ratusan persen selama satu tahun” berbekal peristiwa di masa lampau. Misalkan menceritakan keuntungan pasar modal dengan menggunakan sample NIKL atau PPRO di tahun 2016.

Namun kadang kita lupa pula menjelaskan bahwa dibalik semua gemerlap peluang “high return” ada konsekuensi kemungkinan “high risk” yang perlu diantisipasi. Trading Saham sebagai sebuah media investasi yang dapat memberikan potensi keuntungan yang tinggi biasanya selalu memiliki “side effect” adanya potensi kerugian yang tinggi juga.

Trader atau calon trader harusnya paham hal ini dengan baik sebelum memasukkan dananya di bursa saham. Jangan baru menyadari setelah “kejedot” di sebuah saham misalkan cerita bagaimana riuhnya kerugian trader/investor di saham UNSP dan ENRG pasca melakukan reverse stock split, atau kondisi saham saham yang nyangkut karena membeli di harga tinggi pada saat sahamnya sekarang mengalami kemerosotan harga.

Mau dijual SAYANG karena TAKUT RUGI. Dibiarkan saja dana menjadi mengendap tanpa bisa digerakkan untuk transaksi saham saham yang potensial.  Mindset TAKUT RUGI dalam trading saham ada baiknya segera dibuang jauh jauh karena dalam setiap transaksi di bursa “untung dan rugi” adalah dua buah mata sisi yang pasti akan terjadi. Lalu gimana caranya seorang trader bisa TIDAK RUGI DALAM ketika melakukan transaksi saham ? Bisakah trading saham TANPA RUGI ? Bagaimana cara antisipasi kerugian yang dalam ?

Rugi tidak bisa dihilangkan hingga 0% dalam trading saham, seorang trader kawakan pun tidak akan pernah sepanjang sejarah trading nya selalu UNTUNG dengan skor 100% Untung dan  0% Rugi.  Seperti seorang petinju, hampir sebagian petinju pernah merasakan kekalahan atau minimal pernah draw/seri ketika bertanding.

Jadi karena Rugi adalah “fitrah” bagi seorang trader, hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah bagaimana melakukan management resiko kerugian atau biasa dikenal dengan RISK MANAGEMENT

Ketika kita menjatuhkan pilihan atas sebuah saham untuk dibeli ataupun dijual, itulah saat resiko kerugian terjadi, sehingga RISK MANAGEMENT adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam transaksi di bursa saham. Sehingga hal hal ini harus secara otomatis dilakukan sebelum kita hit tombol ENTER BUY atas sebuah saham.

Ada orang yang bilang “Buat apa sih Risk Management ??? Toh saya gak beli saham saham gorengan. Jadi trading saya pasti aman lah “  Ini adalah contoh asumsi yang salah. Bahkan untuk saham sekelas Big Market Caps seperti TLKM, HMSP, BBCA UNVR, ASII  juga ada resikonya ketika HARGANYA TURUN dari HARGA BELI. Karena tidak semua saham akan terus menerus mengalami kenaikan harga, pasti akan ada masa di mana harganya akan mengalami koreksi.

Disini kita tidak membahas mengenai orang yang punya model transaksi saham “BUY AND FORGET” atau mereka yang punya timeframe sampai diatas 3 tahun atau saham yang akan diwariskan untuk anak cucu. Kita berbicara tentang saham yang ditransaksikan sampai dengan antara 1 hari sampai dengan 1 tahun kepemilikan saja (bahkan mungkin pula lebih pendek)

Setiap orang pasti akan memiliki sebuah nilai batas dimana dia bisa mentoleransi adanya kerugian bila terjadi penurunan harga sebuah saham. Ketika  ditanya dan menjawab “ah saya sih udah siap rugi untuk trading saham” itu adalah contoh orang yang tidak memiliki RISK MANAGEMENT. Orang yang menjawab seperti itu ada dua kemungkinan “tidak tahu” atau “tidak takut resiko”. Biasanya ketika sebuah saham merosot dia akan menjawab “ah nanti juga naik lagi, di keep saja dulu sahamnya” padahal nilainya sudah merosot 75% ketimbang harga belinya.

Ambang batas/threshold kerugian  yang dapat diterima itu disebut sebagai RISK TOLERANCE; sebagian menggunakan Prosentase penurunan dari harga beli (misalkan turun 5%) atau ada yang menggunakan nilai nominal misalkan bila  beli saham Rp 10.000.000 maka bisa terima kerugian dengan santai dan ikhlas sampai dengan Rp 500.000

Idealnya sebuah RISK TOLERANCE jangan terlalu kecil (karena nanti akan cepat tersentuh dengan level cut loss) tapi juga jangan terlalu besar (karena total modal akan mudah tergerus kalau level kerugiannya untuk setiap transaksi tinggi). Berapa ideal nya ?? Disesuaikan. Ada yang pakai 3%, 5% bahkan hingga 10%. Prefer ambil nilai tengahnya yaitu 6% saja. Ini berarti kita sudah mentoleransi batas kerugian sampai dengan 6% untuk setiap transaksi yang kita buat. Contoh hendak membeli saham SRIL 10juta maka batas kerugian yang dapat ditoleransi adalah 600ribu. Bila running loss nya diatas itu maka saham tersebut harus segera dijual.

Ada pula orang yang menggunakan nilai nominal tertentu sebagai toleransi resikonya misalkan setiap transaksi sampai dengan 5juta batasannya adalah 100ribu  dan bila sampai 10 juta adalah 150ribu. Dari dua cara tadi sama sama benar dan sudah baik, karena at least trader tersebut sudah tahu batasan resiko yang dapat diterima.

Nah sekarang mari kita membuat sebuah rencana trading dengan memasukkan risk tolerance.  Rencana trading meliputi 5 komponen (1) Berapa Value yang akan ditrading (2) Harga Beli  (3) Harga Jual dengan posisi untung/take profit level   (4) Harga Jual dengan posisi rugi/cut loss level (5) toleransi resiko (baik dalam bentuk prosentase atau nominal). Pertanyaan :  Bagaimana Menentukan Cut Loss Level dan Take Profit Level ?? Untuk ini akan dibahas dalam topik khusus menentukan batasan batas atas dan batas bawah sebuah harga.

Mari kita ambil contoh bagaimana cara melakukan penilaian resiko atas sebuah saham yang hendak dibeli.

Ilustrasi I : Skenario Trading Plan BUY saham SSMS

Stock : SSMS; Value : 10.000.000; Risk Tolerance : 6%; Target Profit :1675; Cut Loss Level : 1400; Buy Area : 1490-1500

 

 

Dengan menggunakan tools yang ada di www.temantrader.com  Terlihat bahwa dengan trading plan tersebut sebuah plan yang sangat ideal dengan pertimbangan

  • Cut loss level = risk tolerance
  • Jarak antara Harga Beli – Target Price >>>> Harga Beli – Cut Loss Area dengan perbandingan 1 : 2.06. Artinya transaksi saham ini profit nya 2.06x dari loss nya.

Sekarang kita ambil ilustrasi II  berikut dari Skenario Trading Plan Buy Saham DOID

Stock DOID; Value : 10.000.000; Risk Tolerance : 6%; Target Profit 1000-1150; Cut Loss Level : 870; Buy Area : 940-945

Dengan menggunakan tools yang ada terlihat bahwa transaksi ini berada di luar risk tolerance karena cut loss level  nya lebih tinggi dari Risk Tolerance yaitu 8.5%. Selain itu level Reward dan Risk untuk level TP1 masih kurang ideal. Namun bila melihat  saham ini bisa ke level 1100-1150  reward risk nya cukup ideal apalagi  melihat sentiment harga batubara dan kontrak yang diberikan oleh Coal Company.

Bagaimana mensiasati kondisi ini ???   Batasi resikonya dengan merubah (percentage based) menjadi (value based) sehingga dibatasi bahwa resiko nya hanya 600ribu saja. Konsekuensinya adalah jumlah yang ditradingkan akan berkurang

Value : 7.000.000; Risk Tolerance : 600.000; Target Profit 1000-1150; Cut Loss Level : 870; Buy Area : 940-945

Terlihat bahwa selalu ada alternative untuk melakukan resiko management atas transaksi sebuah saham.  Jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukan risk assessment sebelum melakukan pembelian sebuah saham.

Bila plan tersebut sudah firm untuk diexecute, make sure bahwa kita disiplin dengan plannya. Saat harga menyentuh level take profit JUAL, saat menyentuh level cut loss JUAL.  Jangan pernah merasa  “sayang” terhadap saham yang sedang di-hold bila mendadak mengalami penurunan. Jangan pernah berharap bahwa “ah nantinya juga saham tersebut akan naik” lebih baik dananya dipergunakan secara liquid untuk di-tradingkan saham saham lain yang berpeluang memberikan profit

Apa yang dapat kita simpulkan Trading Tanpa Rugi itu Mitos atau Fakta ???

  1. Rugi dan Untung adalah sebuah kondisi yang pasti ada dalam trading saham. Kedua hal tersebut dapat kita projection namun resultnya tergantung kepada pergerakan market dan timeframe trading.
  2. Hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kerugian adalah dengan risk assessment terhadap trading plan yang dibuat. Bila dari hasil risk assessment tadi saham tersebut masih masuk dalam batas toleransi (Risk Tolerance) maka trading plan bisa diexecute
  3. Risk Assessment bersifat general sehingga bisa dilakukan untuk semua type saham baik saham NORMAL maupun saham GORENGAN. Jangan pernah berasumsi bahwa beli saham NORMAL tidak perlu melakukan risk assessment.
  4. Sebaik apapun dalam melakukan analisis dan setinggi-tingginya confident level kita atas hasil analisa yang di-execute tidak mengurangi chance bahwa saham itu akan selalu memberikan KEUNTUNGAN dan ANTI RUGI, karena WE ARE NOT THE ONLY ONE TRADING IN MARKET
  5. Eliminasi Risk hingga level 0 hampir boleh dibilang tidak mungkin, yang paling mungkin adalah meminimalisir resiko dengan memperhatikan risk tolerance dan cut loss level ‘
  6. Trading Tanpa Rugi mungkin adalah MITOS

Materi KULGRAM TETRA  dari Komunitas TELEGRAM TEMAN TRADER (https://telegram.dog/temantrader) yang disampaikan Jumat 11 Agustus 2017 melalui Group Chat TEMAN TRADER  (https://telegram.dog/tetrachat)

 

 

 

 

 

Previous ArticleNext Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *