Edukasi Saham

Jangan Panggil Aku Trader Cupu (Lagi)

Kisah Inspiratif Trader Pemula : Awalnya Ugal Ugalan Kini Sudah Lebih Baik

Perkenalkan dulu. Nama saya Rizki Anggar, mahasiswa asal Papua yang merantu ke Jogjakarta. Sejak tahun lalu saya memiliki passion baru untuk trading di bursa saham walaupun saya tidak memiliki full knowledge tentang trading saat membuka rekening.

Kenapa saya berani mencoba untuk trading saham ?? Motivasi awal adalah untuk mengeksplore peluang income, termasuk mengisi waktu sebagai mahasiwa tingkat akhir Teknik Industri di salah satu PTS kota Jogja.

Excitement yang saya dapatkan saat awal trading tidak seperti yang selama ini digambarkan banyak orang bahwa pasar modal itu adalah sebuah arena untuk mendulang profit. Malah di awal awal trading lebih banyak MERAH nya ketimbang HIJAU nya kalau sedang cek portfolio di OLT

Seperti halnya sebagian besar orang yang masuk ke dunia trading saham dimana 54% telah menjadi trader kurang dari 1 tahun dan 24% kurang dari 2 tahun, saya tidak sendirian. Lebih dari setengah yang ada di dunia saham ini ternyata orang baru alias NUBIE (bukan NUBIE kayak nama nama yang seliweran di group group TELEGRAM)

Ternyata lebih dari 70% orang tadi memiliki pain point dan masalah yang sama dengan saya. Apa saja masalah yang saya alami dan sebagian besar trader pemula yang kadang disebut CUPU (a) tidak ada pengalaman (b) tidak pernah mendapatkan training secara formal, hanya sekedar cara penggunaan OLT via laptop dan aplikasi smartphone (c) kadang informasi yang diterima terlalu banyak/excessive tapi kadang juga terlalu sedikit dan samar-samar. (d) tidak bisa fokus dalam melakukan trading karena waktu terbagi antara aktivitas regular (kuliah dan kerja)  dan yang terakhir (e) loss melebihi profit

Pada masa masa tiga bulan pertama awal trading, saya sempat frustasi. Kenapa ?? Jelas karena “LOSS EXCEEDING PROFIT”, modal awal yang cuma 20 juta tergerus perlahan tapi pasti ketika saham yang saya beli tidak berubah menjadi HIJAU tapi malah masuk ke zona MERAH. Sempat saya ingin menyerah dan bersikap judgemental bahwa transaksi di bursa saham adalah sebuah permainan WIN LOSE dimana saya adalah KORBAN. Bahkan terbersit dalam hati stock trading is gambling and it is not for me

Saya kemudian mencoba mengexplore banyak hal diantara dengan bergabung dengan beberapa group komunitas saham di layanan messanger. Hal ini karena sulit sekali menemukan peers saya di kampus ataupun teman bermain yang punya interest sama di trading saham. Tidak tersebut banyak group yang saya join hanya sekedar untuk mendapatkan informasi, pembelajaran dan berkenalan dengan sesama trader.

Berinteraksi dengan banyak orang di group dengan level of knowledge, experience dan understanding mengenai trading saham yang bervariasi mulai dari level pemula sampai expert akhirnya membuat saya berpikir dan bertanya kepada diri sendiri “Apakah trading yang saya lakukan sudah benar?? Apakah saya sudah mengikuti langkah langkah yang seharusnya dilakukan oleh seorang trader ? Sudahkan saya memiliki pengetahuan dasar yang baik tentang trading saham sehingga tidak terjebak kedalam sebuah permainan seperti judi ?” Pada akhirnya saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa SAYA LAH YANG HARUS DIKOREKSI, BUKAN MALAH MEMPERSALAHKAN MARKET

Interaksi dengan banyak orang di group tadi membuat saya sadar bahwa masih banyak hal yang perlu saya perbaiki untuk menjadi seorang trader yang baik, mulai dari pengetahun sampai masalah teknis eksekusi trading. Bahkan untuk hal sepele seperti istilah istilah atau terminology dasar pun kadang saya tidak tahu saat itu. Bahkan suka menjadi bahan “bully para senior group” . Saya bahkan lebih banyak pakai EMOTICON yang SEDIH atau NANGIS di group ketimbang pakai emot TERTAWA atau JEMPOL. Disitu saya tertantang “SAYA JANGAN JADI TRADER CUPU TERUS”

Tapi dari bully-an tadi akhirnya saya menemukan jawaban kenapa saya LOSS LOSS LOSS LOSS terus. SAYA LAH SUMBER MASALAH NYA. Ada cerita sedih dari masa lalu dimana saya sempat nyangkut parah di saham RIMO sekitar -45% dan bodohnya hampir seluruh dana yang saya tradingkan dicemplungkan di sana. Sempat saya kalut gimana cara keluar dari problem floating loss akut seperti ini.

Saya bertanya kanan kiri, keluar masuk group ke group, bertanya kepada senior apakah ada solusi bila sudah nyangkut dengan floating loss -45% di satu saham. TIDAK ADA JAWABAN YANG PASTI. Akhirnya saya putuskan untuk mengikhlaskanya (ternyata ilmu paling tinggi di saham adalah IKHLAS) . Dari sanalah saya dapat satu pelajaran yang sangat mahal yaitu bertransaksi tanda perencanaan : entry level, exit level, stoploss dan disiplin cut loss untuk meminimalkan resiko

Satu hal yang dulu sering saya lakukan  adalah BUYS STOCK WHAT’S  THE HOT TALKS AND TRENDING DI RUNNING TRADE. Di group lagi ramai apa, di running trade saham muncul berulang dan hijau maka itulah stockpick saya. BUY. Jujur menekan tombol BUY sangat lah mudah dan terlihat seperti sebuah experience yang sangat sederhana. Namun menekan tombol SELL dalam kondisi Merah jelas lebih dilematis ketimbang dalam kondisi Hijau.

Saya trading tidak pakai analisa apa apa, cukup WA ANALYTICS alias analisa menggunakan Whatsapp Messenger (Percaya Apa Kata Senior) tanpa melihat apa underlying analisa nya, tidak pakai trading plan dan yang pasti sangat ugal ugalan. Orang ramai bicara TRAM yang ikut nge-TRAM, orang ramai BEKS ya ikut nge-BEKS. Makin sebuah saham menjadi hot topics makin mudah untuk percaya bahwa saham tersebut akan memberikan untung.

Sikap masa bodoh, ignorance terhadap knowledge dan analytics dan yang pasti saya tidak mau spend waktu lama untuk mempelajari hal hal dasar dan teknis tentang trading menjadi main contributor terhadap buruknya kualitas trading saya. Padahal trading yang baik sekalipun dengan metoda dan proses yang benar pasti akan memberikan 2 OUTPUT yang likelihood akan muncul : UNTUNG/PROFIT/CUAN atau BUNTUNG/LOSS

Semenjak saat itu saya saya terbuka bahwa TRADING YANG BERKUALITAS itu membutuhkan PROSES dan METODA. Proses adalah pembelajaran dan Metode adalah teknis eksekusi di trading panel. Saya termotivasi untuk mempelajari dunia saham dengan membeli beberapa buku buku pengetahuan trading mulai dari buku Desmond Wira, Edianto Ong, Santo Vibby dan lain lain. Pelan pelan saya baca dan pahami, bila ada yang kurang jelas kadang saya bertanya kepada beberapa teman di group dan alhamdulillah direspond dengan baik

Kemudian saya mencoba memberanikan diri untuk menganalisa satu saham dan mempostingnya ke grup tsb, dengan tujuan jika saya salah kan bisa ada yg membetulkan dan sukur-sukur bisa ada mentor yang mau mengajari gimana cara melakukan analilsa yang lebih baik dan lebih benar. Saya sadar bahwa tanpa keberanian untuk menerima koreksi atau feedback dari orang lain maka saya akan merasa apa yang sudah saya lakukan 100% Baik Benar padahal didalam pembelajaran ini masih ada celah untuk belajar lebih banyak lagi.

Pembelajaran mandiri yang saya lakukan lewat buku literatur dan juga respond positif yang saya dapatkan dari group di messenger ternyata cukup baik. Analisa saya dikoreksi dan kemudian di edukasi dengan cara yang lebih baik seperti apa, disana saya mendapatkan banyak pelajaran baik dari hal hal teknikal maupun hal hal terkait risk management dan money management

Alhamdulillah setelah saat itu saya terus bersemangat untuk mempelajari dunia saham yang lumayan kompleks namun bisa disimplifikasi sehingga menjadi mudah untuk dilakukan sebagai sebuah kebiasaan. Saya menganalisa sebelum transaksi, menggunakan strategy entry yang cukup baik , disiplin melakukan cut loss dan menggunakan trading plan sebagai acuan sehingga tidak lagi ugal ugalan

Walaupun kadang saya mendapatkan secondary opinion tentang analisa dan rekomendasi saham di group group Whatsapp dan Telegram, saya tetap melakukan basic assessment apakah rekomendasi ini COCOK UNTUK SAYA.  Saya tidak telan mentah mentah sebuah rekomendasi atau stockpick untuk semata mata memudahkan ENTER BUY dan SELL. Buah dari ketekunan belajar dan belajar membuat porto saya sekarang relatively lebih HIJAU ketimbang MERAH. Cutloss pasti tetap dilakukan untuk minimalisasi resiko. Namun overall skrg transaksi saya CUAN > LOSS atau PROFT EXCEEDING LOSS.

Jadi mulai hari ini JANGAN PANGGIL SAYA TRADER CUPU (LAGI)

Sebagai penutup , pesan saya untuk para trader (khususnya para pemula yang sering loss) jika kita mau berusaha TUHAN pasti akan menunjukan jalannya, jangan mudah menyerah jika saat ini kamu selalu loss, jadikan loss sebagai motivasi diri untuk terus mau belajar dan belajar sehingga kesalahan yang sudah kita lakukan

 

(Materi ini disarikan dari KULGRAM TETRA melalui https://t.me/tetrachat yang disampaikan pada hari Jumat tanggal 18 Agustus 2017)

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *